Selasa, 09 Juni 2020

Desa wisata dimasa sulit Pandemi.


sumber:jawapos.com, gambar:wisata desa terong



Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Semenjak bumming-nya novel lascar pelangi, Pulau Belitung berbenah dan bertransformasi menuju tujuan wisata, dan bahkan di persipakan menjadi Balinya-Sumatra.


Sebagai penduduk lokal Belitung kita semua tahu bahwa Era timah sebentar lagi” mungkin” akan berakhir, selanjutnya kini era pariwisata dan pertanian berorientasi ekspor di Belitung sudah menanti.

Pemerintah kita sedang gencar-gencarnya menaikkan pamor kita hingga ke tingkat internasional dengan  beragam acara yang di selenggarakan dan yang akan diselenggarakan. Bearti ini kabar baik bagi para pelaku wisata dan selanjutnya bisa menagalir luas di kalangan masyarakat kita. Salah sat langkah aktif adalah dengan menggaungkan “Desa Wisata” ini terbukti dengan jumlah desa wisata di Belitung yang sudah berjumlah 15 desa dan 3 desa sedang di persiapkan untuk kesiapan Desa Wisata.  Kenapa Pemda kita terbilang cukup serius mengelola desa wisata ini? 

Pemerintahan pak Jokowi menargetkan jumlah desa wisata di tahun ini mencapai 10 ribu desa. Terbilang banyak karena kita tahu tidak semua daerah bisa dan sanggup untuk menuju keDesa wisata. Pernyataan ini terbilang cukup sexsi untuk di telaah, apalagi tahun ini sedang di hadapkan dengan Covid-19.

Kita yakin bahwa desa wisata menjadi jantung daerah yang bisa menggerakkan perekonomian masyarakat. Ini bisa dilihat dari Fungsi Desa Wisata  sebagai wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi Wisata dan terciptanya Sapta Pesona di lingkungan wilayah di destinasi wisata dan sebagai unsur kemitran baik bagi Pemerintah propinsi maupun pemerintah daerah (kabupaten/kota). Namun permasalhan yang dihadapi adalah kesipan masyarakat kita apakah siap dengan pengelolaan dan perilaku manuisa yang akan bercampur baur di didalamnya.
loading...


sumber:desa wisata terong

Dalam (Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai PariwisataBudaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3) Desa wisata adalah suatu bentuk integrasiantara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Di catat adalah menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
Tapi kita kira Belitung, hal tersebut bukan menjadi sebuah masalah besar, sebab kita di kenal sebagai orang yang ramah tamah dengan orang lain. Poin yang mengembirakan bagi kita semua, celah masuk yang terbuka lebar. Pantas saja Pemda kita optimis dengan pengembangan Desa wisata ini.

Data menyebutkan bahwa  Sepanjang 2019 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bangka Belitung (BABEL) berhasil meraup pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp63,5 miliar dari sektor pariwisata. Angka tersebut diperoleh dari peningkatan jumlah kunjungan wisata yang setiap tahun terus meningkat sekitar 9%.

Kabupaten Belitung menjadi penerima terbesar yang ada di BABEL yaitu memperoleh PAD pariwisata Rp20,6 miliar tahun lalu. Jumlah besar untuk seklas Belitung yang baru melebarkan sayap nya di sector pariwisata.

Gerakkan massif Pemda kita ini harus kita dukung secara penuh sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih luas dalam masyarakat kita. Memang kita sadari bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar siap menuju Desa wisata karena begitu banyak faktor yang harus di perhatikan, yang paling utama adalah kesiapan masyarakat untuk bisa menerima budaya luar, tradisi, dan peralihan kebiasaan serta meng-Edukasi untuk tidak merusak lingkungan seperti membuang sampah sembarangan.

Di masa pandemi saat ini kita semua tahu bahwa dunia sedang susah. Sektor pariwisata lumpuh bahkan bisa dilihat lumpuh total. Apalagi Belitung bisa dikatakan pengunjung yang masuk adalah dari luar daerah. Namun kita harus yakin dan optimis bahwa semua akan kembali ntah itu kembali seperti dulu sebelum ada korona ataupun kembali dengan cara yang berbeda.

Masyarakat, atau penduduk yang berada di dalam Desa wisata yang bergantung dengan wisata desa dipastikan tidak berpengahasilan. Miris memang tapi inilah kenyataan yang benar adanya di lingkungan kita.

Namun Saat itu belum berlalu maka ada beberapa hal yang bisa diupayakan untuk mengembalikan sedikit-demi sedikit perkonomian kita, seperti memperbaiki dan mengembangkan untuk mempersiapkan Desa wisata kita menjadi lebih baik, meng-Edukasi masyarkat kita dengan mempersiapan segala hal yang berkaitan dengan protokol kesehatan, jika memang pintu masuk pariwisata nanti sudah benar-benar dibuka kembali, kita siap.



Sumber rujukan :
https://belitung.tribunnews.com/2020/01/05/15-desa-wisata-di-kabupaten-belitung-termasuk-tiga-desa-jadi-desa-wisata-baru
https://m.mediaindonesia.com/read/detail/293304-pad-sektor-pariwisata-babel-rp635-milia

Previous Post
Next Post

0 Comments: